Rak abon di minimarket atau Shopee sekarang penuh pilihan, dari merek besar sampai yang baru muncul. Tapi tidak semua abon yang dijual bebas itu otomatis aman untuk anak, terutama untuk MPASI atau balita yang sistem pencernaannya masih berkembang.
MomDad tidak perlu jadi ahli gizi untuk bisa memilih abon yang aman. Cukup tahu apa yang harus dihindari saat membaca label kemasan.
Tidak Semua Abon Aman untuk Anak — Ini yang Perlu Dicek
Abon adalah produk olahan, artinya komposisinya bisa sangat bervariasi antar merek. Sebagian abon ditambahkan pengawet, MSG, atau gula dan garam dalam jumlah yang sebenarnya tidak perlu untuk produk seperti ini.
5 Hal yang Harus Dihindari Saat Memilih Abon
1. Pengawet dan MSG Berlebih
Cek daftar komposisi untuk kata-kata seperti pengawet sintetis atau penyedap rasa buatan dalam jumlah tinggi. Anak usia MPASI dan balita sebaiknya mendapat asupan dengan bahan tambahan seminimal mungkin.
2. Gula atau Garam Tambahan yang Tinggi
IDAI menganjurkan membatasi gula dan garam tambahan pada anak di bawah 2 tahun. Abon yang terlalu manis atau asin biasanya menandakan tambahan gula/garam yang tidak diperlukan untuk produk lauk kering.
3. Tekstur Terlalu Kasar untuk MPASI Awal
Untuk bayi yang baru mulai MPASI di usia 6 bulan, abon dengan serat kasar berisiko membuat anak tersedak atau menolak karena belum siap secara oral motor. Pilih abon dengan tekstur paling halus untuk fase ini.
4. Bahan Baku yang Tidak Jelas
Pastikan jenis daging atau ikan tercantum jelas di label. Waspadai abon dengan filler seperti kacang atau kedelai berlebihan yang berfungsi menambah berat produk tanpa menambah nilai gizi sebanding, dan berpotensi menjadi alergen bagi sebagian anak.
5. Tanpa Sertifikasi yang Jelas
Abon yang dijual untuk konsumsi anak sebaiknya punya sertifikasi Halal, PIRT atau BPOM, dan idealnya HACCP. Sertifikasi ini menjadi indikator dasar bahwa proses produksinya sudah diawasi standar keamanan pangan.
Cara Membaca Label Abon dengan Benar
Urutan komposisi di label menunjukkan jumlah dari yang terbanyak ke tersedikit. Jika gula, garam, atau filler muncul di urutan awal, itu pertanda porsi bahan tersebut cukup besar dalam produk.
Bandingkan juga kandungan protein per sajian antar merek. Sebagai acuan, abon dengan kualitas baik biasanya mengandung sekitar 7g protein per sajian, setara satu butir telur.
Tips Praktis Memilih Abon yang Aman
- Baca komposisi dari awal sampai akhir, jangan hanya lihat klaim di bagian depan kemasan.
- Cek logo Halal, PIRT/BPOM sebelum memutuskan membeli.
- Pilih tekstur sesuai usia anak — paling halus untuk MPASI awal, lebih kasar boleh untuk anak yang lebih besar.
- Coba porsi kecil dulu saat pertama kali memberikan merek baru, untuk memantau reaksi anak.
Kesimpulan
Memilih abon yang aman untuk anak sebenarnya cukup sederhana asal MomDad terbiasa membaca label: cek pengawet, gula/garam tambahan, tekstur, bahan baku, dan sertifikasi sebelum membeli.
Pertanyaan yang Sering Ditanyakan
Apakah semua abon mengandung pengawet?
Tidak semua. Banyak produk abon yang sudah memproduksi tanpa pengawet tambahan karena proses pengeringannya sendiri membantu memperpanjang daya simpan secara alami.
Usia berapa anak boleh mulai makan abon?
Abon bisa diperkenalkan sejak MPASI di usia 6 bulan, dengan tekstur sangat halus dan porsi kecil sebagai pengenalan rasa.
Apakah abon tanpa MSG rasanya tetap enak?
Bisa, karena rasa gurih abon sebagian besar berasal dari bumbu alami dan proses penyangraian, bukan hanya dari penyedap rasa tambahan.
Bagaimana cara tahu abon punya bahan baku yang jelas?
Cek apakah label mencantumkan jenis daging atau ikan secara spesifik, misalnya "daging ayam kampung" atau "tenderloin sapi", bukan hanya tertulis "daging".
Referensi
- IDAI. Rekomendasi Pemberian MPASI. 2020.
- BPOM RI. Pedoman Label Pangan Olahan. 2022.
- Kemenkes RI. Pedoman Gizi Seimbang untuk Anak. 2023.
