DW Indonesia (Deutsche Welle, 743K subscribers) memprofilkan Edwin dalam episode #DWKampus — tentang apa yang bisa Indonesia pelajari dari teknologi pangan Jerman. 48.000+ penonton.
Bukan produk yang dibuat untuk dijual. Produk yang dibuat karena seorang ayah yang kebetulan juga food technologist tidak bisa menemukan yang layak untuk anaknya. Dan sebuah pertanyaan yang sudah ada sejak 2018 — yang akhirnya terjawab.
Edwin Hadrian menghabiskan tujuh tahun di Eropa. Dua gelar master — Food Technology dari University of Bonn di Jerman, dan Food Consumer Marketing & Product Development dari Sheffield Hallam University di Inggris. Di antaranya, dua tahun sebagai research assistant di UK National Centre for Food Manufacturing, Lincoln.
Dia belajar bagaimana makanan untuk anak-anak seharusnya dirancang. Di laboratorium Jerman. Di pusat riset Inggris. Di ruang kelas tempat dia akhirnya mengajar sendiri.
Dan sebenarnya, pertanyaan tentang membawa standar pulang sudah ada sejak awal. Tahun 2018, ketika Edwin masih mahasiswa master di Bonn, DW Indonesia memprofilkan dia dalam episode #DWKampus — sebuah episode berdurasi 6 menit yang bertanya: apa yang bisa Indonesia pelajari dari teknologi pangan Jerman? Waktu itu Edwin muda, jawabannya masih penuh teori — konsep zero waste, efisiensi produksi, riset yang lebih serius. Delapan tahun kemudian, jawabannya jauh lebih konkret. Namanya Gogobon.
Lalu dia pulang ke Indonesia. Bukan karena Eropa tidak baik untuknya — tapi karena dia ingin anak-anaknya tumbuh di sini. Di tanah airnya. Dekat keluarga besar. Dengan bahasa dan budaya yang sama dengan orang tuanya.
Dan kemudian anaknya lahir. Seperti setiap orang tua baru, Edwin berjalan ke baby shop. Mengambil produk satu per satu. Membaca label. Membaca lagi.
Dan dia sadar, dengan perasaan yang tidak enak: tidak ada satu pun produk abon di rak itu yang memenuhi standar yang dia ajarkan sendiri kepada mahasiswanya di Eropa. Dagingnya generik. Sayurnya cuma 3% — itu bukan sayur, itu perasa. Klaim gizinya lebih besar daripada sains di baliknya.
Edwin tahu bagaimana seharusnya. Dia terlatih untuk tahu. Dan dia tidak bisa memberikan produk-produk itu ke anaknya sendiri.
Jadi dia bikin sendiri. Dengan ayam kampung, bukan ayam broiler dari peternakan intensif. Dengan sayuran yang di-freeze-dry utuh, bukan 3% bubuk perasa. Dengan DHA premix pada dosis yang memang dibutuhkan otak anak di usia emas — bukan sekadar untuk dicantumkan di kemasan.
Itulah Gogobon. Bukan produk yang dibuat untuk dijual. Produk yang dibuat karena seorang ayah yang kebetulan juga food technologist tidak bisa menemukan yang layak untuk anaknya. Dan sekarang, untuk anak Anda juga.
Karena Edwin percaya satu hal: anak-anak Indonesia tidak seharusnya mendapatkan standar yang lebih rendah daripada anak-anak di Eropa. Gogobon adalah karya anak bangsa — dibuat oleh orang Indonesia, di Indonesia, dengan standar yang dibawa pulang dari dunia. Tanpa kompromi.
DW Indonesia (Deutsche Welle, 743K subscribers) memprofilkan Edwin dalam episode #DWKampus — tentang apa yang bisa Indonesia pelajari dari teknologi pangan Jerman. 48.000+ penonton.
MEI 2025"GoGoBon cocok jadi lauk praktis yang bisa dinikmati oleh seluruh keluarga… tekstur yang lembut dan mudah dikunyah, pilihan lauk pelengkap untuk nasi, bubur, atau bekal sekolah."
Baca artikel lengkap →Gogobon diulas ParentingByRey sebagai pilihan abon anak dengan formulasi aman dan bergizi — solusi praktis untuk working mom yang tidak mau berkompromi pada kualitas makanan anak.
Baca artikel lengkap →
Formulasi food technologist, dibuat untuk anak Indonesia yang sehat dan cerdas. Rasakan sendiri bedanya di meja makan keluarga Anda.
Coba Gogobon di Shopee