Sebagai ibu, Bunda pasti sering dengar istilah DHA — zat gizi yang katanya penting untuk perkembangan otak anak. Tapi apa sebenarnya DHA itu? Berapa banyak yang dibutuhkan anak setiap hari? Dan yang paling penting: dari mana Bunda bisa memastikan si kecil mendapat cukup DHA?
Artikel ini menjawab semua pertanyaan tersebut, disusun berdasarkan rujukan ilmiah dan pengalaman Edwin Hadrian S.T.P., M.Sc. — food technologist spesialis protein nabati dari Institut Ilmu Kehidupan (i3L) Jakarta, sekaligus co-founder Gogobon. Kami juga menjelaskan kenapa abon — yang selama ini dianggap makanan praktis biasa — bisa menjadi sumber DHA yang efektif untuk anak.
Apa Itu DHA dan Mengapa Penting untuk Tumbuh Kembang Anak?
DHA (Docosahexaenoic Acid) adalah asam lemak Omega-3 rantai panjang yang menjadi komponen struktural utama di otak dan retina mata. Sekitar 20% jaringan otak manusia terdiri dari DHA, dan 60% di retina.
Untuk anak, peran DHA sangat krusial karena:
- Perkembangan otak puncak terjadi di 1.000 hari pertama kehidupan
- DHA mendukung pembentukan sinapsis — koneksi antar sel saraf yang menentukan kemampuan belajar
- Asupan DHA yang cukup dikaitkan dengan memori, konsentrasi, dan kemampuan belajar yang lebih baik
- DHA mendukung perkembangan penglihatan, terutama ketajaman visual
- Efek anti-inflamasi DHA mendukung sistem imun anak
Sayangnya, tubuh manusia tidak bisa memproduksi DHA dalam jumlah cukup secara mandiri. Sebagian kecil bisa dikonversi dari ALA (Alpha-Linolenic Acid, omega-3 dari tumbuhan), tapi tingkat konversinya hanya sekitar 1–9% pada anak. Karena itu, DHA harus didapat langsung dari makanan atau suplemen.
Berapa Kebutuhan DHA Harian Anak?
Kebutuhan DHA berbeda berdasarkan usia. Berikut rangkuman dari rekomendasi WHO, FAO, dan ISSFAL (International Society for the Study of Fatty Acids and Lipids):
- Bayi 0–12 bulan: 10–12 mg DHA per kg berat badan (umumnya terpenuhi dari ASI)
- Anak 1–3 tahun: sekitar 70 mg DHA per hari
- Anak 4–8 tahun: sekitar 90–110 mg DHA per hari
- Anak 9–13 tahun: sekitar 110–140 mg DHA per hari
Untuk konteks Indonesia, Kemenkes menetapkan AKG (Angka Kecukupan Gizi) Omega-3 total anak 1–3 tahun sebesar 0,7 gram/hari, dan 4–6 tahun sebesar 0,9 gram/hari. DHA disarankan memenuhi sekitar 10–15% dari total omega-3 itu. Angkanya terlihat kecil, tapi banyak penelitian di Indonesia menunjukkan asupan DHA anak balita masih jauh di bawah kebutuhan — terutama di keluarga yang anaknya susah makan ikan.
Sumber DHA Alami Terbaik untuk Anak
Lima sumber DHA alami paling efektif untuk anak:
- Ikan berlemak — salmon (1.000+ mg per 100g), tuna, makarel, sarden
- ASI — untuk bayi, selama ibu mengonsumsi cukup DHA
- Telur yang diperkaya DHA — varian omega-3 enriched
- Minyak ikan — suplemen standar, biasanya dalam bentuk cair atau gummy
- Mikroalga / algae oil — sumber DHA vegan, aman untuk bayi, dan bebas kontaminasi merkuri
Penting dicatat: memasak ikan dengan digoreng dalam minyak panas tinggi dapat menurunkan kandungan DHA hingga 50%. Metode terbaik adalah mengukus, memanggang dengan suhu rendah, atau menumis cepat.
Kenapa DHA dalam Makanan Sehari-hari Anak Sering Kurang
Di Indonesia, rata-rata konsumsi ikan per kapita sudah cukup tinggi (~55 kg/tahun). Tapi data ini tidak merata — anak-anak, terutama di perkotaan, sering tidak makan cukup ikan karena beberapa alasan:
- Picky eating — banyak anak tidak suka rasa atau tekstur ikan
- Kekhawatiran merkuri — orang tua membatasi ikan tuna/makarel
- Ketersediaan — ikan segar sulit didapat di kota tertentu
- Metode memasak — penggorengan tinggi panas merusak DHA
- Kebiasaan makan modern — makanan olahan, junk food, dan snack umumnya rendah DHA
Akibatnya, banyak anak mengalami defisiensi DHA subklinis — kekurangan yang tidak terlihat jelas secara fisik, tapi berdampak pada perkembangan kognitif jangka panjang.
Bagaimana Abon Bisa Menjadi Sumber DHA yang Praktis?
Abon adalah makanan yang secara kultural diterima luas di Indonesia — anak-anak suka rasanya, mudah dicampur ke nasi atau bubur, dan tahan lama. Dulu abon hanya dipandang sebagai sumber protein. Dengan teknologi food science modern, abon bisa difortifikasi dengan DHA dari sumber food-grade seperti minyak ikan terstandarisasi atau algae oil.
Fortifikasi DHA pada abon memungkinkan anak:
- Mendapat asupan DHA tanpa harus makan ikan utuh
- Makan lebih lahap karena rasanya familiar dan enak
- Dapat manfaat ganda: protein + DHA dalam satu taburan
Ini persis prinsip di balik formulasi Gogobon.
Kandungan DHA Gogobon: 28 mg per Sajian
Setiap sajian 25g Abon Gogobon mengandung:
- 28 mg DHA — sumber food-grade, halal, bebas merkuri
- 130 mg total Omega-3
- 7 g protein dari daging ayam kampung atau tenderloin sapi asli
Angka 28 mg DHA ini setara dengan sekitar 40% kebutuhan harian anak usia 1–3 tahun (70 mg/hari) hanya dari satu sajian. Artinya, satu taburan Gogobon di nasi si kecil sudah menyumbang lebih dari sepertiga total kebutuhan DHA hariannya.
Fortifikasi DHA Gogobon menggunakan sumber food-grade yang aman dikonsumsi sejak usia 6 bulan. Seluruh proses formulasi dipimpin oleh food technologist kami — memastikan setiap keputusan bahan dan kadar gizi berbasis bukti ilmiah, bukan asumsi.
Pertanyaan Umum Tentang DHA untuk Anak
Solusi Praktis untuk Asupan DHA Harian Si Kecil
Memastikan anak cukup DHA adalah salah satu investasi gizi terpenting di masa tumbuh kembang. Dengan Abon Gogobon, Bunda bisa memberi asupan DHA yang stabil setiap hari — tanpa drama saat makan, tanpa ribet memasak ikan, dan dengan rasa yang si kecil pasti suka.
Satu taburan. 28 mg DHA. Protein asli. Tanpa MSG.
Gogobon sudah BPOM, Halal MUI, aman dari usia 6 bulan. Beli langsung di Shopee.
Beli Gogobon di Shopee →