Banyak MomDad menyimpan abon di rak dapur sebagai cadangan untuk hari-hari malas masak, bukan sebagai lauk yang dianggap "serius". Anggapan ini wajar, tapi sering membuat manfaat abon untuk MPASI jadi terlewat begitu saja.
Padahal di hari-hari tertentu, terutama saat anak susah makan atau jadwal rumah sedang padat, abon justru bisa jadi penyelamat asupan protein yang sebenarnya cukup signifikan.
Kenapa Abon Sering Dianggap "Bukan Lauk Sungguhan"?
Persepsi ini muncul karena abon biasanya dilihat sebagai topping, bukan lauk utama seperti ayam atau ikan segar. Teksturnya yang kering dan ringan juga membuat sebagian orang tua menganggapnya kurang "berisi" secara gizi dibanding lauk basah.
Padahal, dari sisi praktis maupun nutrisi, abon punya peran yang spesifik dan tidak selalu bisa digantikan lauk segar, terutama di momen-momen tertentu.
Tiga Manfaat Abon yang Sering Diremehkan
1. Tekstur Halus Membantu Anak yang Sensitif terhadap Tekstur
Sebagian anak menolak lauk karena teksturnya, bukan karena rasanya. Abon yang diproses hingga halus dan renyah bisa jadi jalan tengah untuk anak yang masih kesulitan menerima tekstur daging atau ikan yang berserat.
2. Solusi Saat Anak Sedang GTM (Gerakan Tutup Mulut)
Saat anak mengalami fase GTM, mendapatkan protein dalam bentuk apapun yang anak mau terima jadi prioritas. Abon yang dicampur ke bubur atau nasi yang sudah disukai anak sering lebih mudah diterima dibanding memperkenalkan lauk baru di saat yang sama.
3. Jembatan Pengenalan Rasa Daging atau Ikan Baru
Rasa abon yang gurih dan familiar bisa membantu anak terbiasa dengan rasa dasar daging atau ikan sebelum dikenalkan dalam bentuk yang lebih utuh. Ini bisa jadi langkah perantara, bukan pengganti permanen.
Apakah Abon Tetap Bergizi?
Abon tetap menyumbang protein, meski jumlahnya per porsi lebih kecil dibanding lauk segar karena proses pengeringan mengurangi kadar air dan memadatkan porsi. Sebagai gambaran, abon dengan kualitas baik seperti Go Go Bon mengandung sekitar 7g protein per sajian, setara dengan satu butir telur.
Karena itu, abon paling tepat diposisikan sebagai pelengkap protein harian, bukan satu-satunya sumber. Tetap perlu divariasikan dengan lauk segar di waktu makan lain.
Tips Praktis Memaksimalkan Manfaat Abon di Menu Anak
- Gunakan saat jadwal padat atau anak GTM, bukan sebagai lauk harian satu-satunya.
- Campurkan ke makanan favorit anak seperti bubur atau nasi tim agar lebih mudah diterima.
- Pilih abon dengan bahan baku jelas dan tanpa pengawet berlebih untuk memastikan kualitas gizinya tetap terjaga.
- Variasikan dengan lauk segar di waktu makan lain dalam hari yang sama, bukan hanya mengandalkan abon sepanjang hari.
Beberapa produk abon saat ini juga sudah memadukan protein dengan sayur freeze-dried, seperti Go Go Bon, sehingga satu sajian bisa membantu mencukupi dua kebutuhan sekaligus tanpa perlu tambahan langkah memasak.
Kesimpulan
Abon bukan lauk "kelas dua" — perannya sebagai solusi praktis saat anak susah makan atau jadwal padat justru sering diremehkan. Yang penting, gunakan sebagai pelengkap dan tetap variasikan dengan sumber protein segar.
Pertanyaan yang Sering Ditanyakan
Apakah abon bisa diandalkan setiap hari sebagai lauk anak?
Sebaiknya tidak. Abon paling efektif sebagai pelengkap di hari-hari tertentu, bukan pengganti permanen lauk segar yang punya kandungan protein lebih tinggi per porsi.
Apakah abon membantu anak yang sedang GTM?
Bisa membantu karena teksturnya ringan dan rasanya familiar, tapi tetap perlu dikombinasikan dengan upaya lain seperti variasi penyajian dan konsistensi jam makan.
Apakah anak yang sensitif tekstur cocok diberi abon?
Banyak anak dengan sensitivitas tekstur lebih mudah menerima abon karena teksturnya halus dan tidak berserat seperti daging utuh.
Kapan sebaiknya tidak mengandalkan abon?
Saat anak sudah bisa menerima berbagai tekstur lauk segar dengan baik, sebaiknya abon dikembalikan ke porsi pelengkap, bukan sumber protein utama harian.
Referensi
- IDAI. Rekomendasi Pemberian MPASI. 2020.
- Kemenkes RI. Pedoman Gizi Seimbang untuk Anak. 2023.
- PrimaKu. Mengatasi Anak GTM (Gerakan Tutup Mulut) Saat MPASI.
